

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.
(QS. Ar-Rum: 21)
Bukan sekadar pertemuan dua insan,
tapi awal dari perjalanan panjang menuju ridha Ar-rahmaan.
Bukan karena jatuh cinta yang membutakan,
melainkan karena doa yang dipanjatkan dalam istikharah panjang.
Ikhtiar ini bukan untuk mencari yang paling memikat mata,
tapi yang mampu menjaga iman dan hati.
Karena cinta yang hakiki bukan hanya tentang rasa,
tapi tentang pilihan yang membuat surga terasa lebih dekat saat bersamanya.
Sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib:
“Apapun yang menjadi takdirmu, pasti akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu.”
Dan begitulah takdir itu bekerja—perlahan, pasti, dan indah pada waktunya.
Lamaran bukan sekadar janji,
tetapi niat yang dibalut kesungguhan untuk memulai hidup baru bersama.
Bukan tentang siapa yang datang paling dulu,
tapi siapa yang datang dengan niat paling tulus.
Di ujung pencarian, kamu akan sadar bahwa bukan kesempurnaan yang kamu cari,
melainkan ketulusan hati untuk menerima dan saling menguatkan.
Menikah adalah tentang menemukan seseorang
yang tetap menggenggam tanganmu saat badai datang,
yang menjadi pengingat ketika semangat ibadah mulai redup,
dan yang tak lelah untuk terus tumbuh bersamamu dalam kebaikan.
Karena tak akan kamu temukan sosok yang sempurna,
tapi kamu akan menemukan seseorang yang pantas diperjuangkan
dan layak untuk dijadikan teman seumur hidup.
Dan di situlah, cinta menemukan maknanya yang sejati.
Merupakan suatu kebahagiaan dan kehormatan bagi kami, apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan do'a restu kepada kedua mempelai.
Do'a untuk kedua mempelai :
بَارَكَ اللّٰهُ لَكُمَا وَبَارَكَ عَلَيْكُمَا وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ
"Semoga Allah memberkahimu berdua, memberkahi atas kalian berdua, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan."